Menentukan harga layanan merupakan salah satu
keputusan penting dalam menjalankan bisnis laundry. Harga yang terlalu tinggi bisa membuat pelanggan beralih ke tempat lain, sedangkan harga yang terlalu rendah berisiko membuat usaha sulit menghasilkan keuntungan.
Masalahnya, sebagian pemilik laundry menentukan harga hanya dengan melihat tarif pesaing di sekitar. Padahal, setiap usaha memiliki biaya operasional, kapasitas mesin, jumlah karyawan, dan kondisi bisnis yang berbeda.
Akibatnya, laundry bisa terlihat ramai setiap hari, tetapi keuntungan yang diperoleh ternyata tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
Agar kondisi tersebut tidak terjadi, pemilik perlu memahami kesalahan dalam menentukan harga laundry dan cara memperbaikinya. Penggunaan aplikasi laundry juga dapat membantu mencatat transaksi serta memantau perkembangan usaha berdasarkan data yang lebih teratur.
1. Menentukan Harga Hanya Mengikuti Pesaing
Melihat harga pesaing merupakan hal yang wajar sebelum menetapkan tarif. Namun, menjadikan harga pesaing sebagai satu-satunya patokan dapat menjadi kesalahan.
Misalnya, laundry di sekitar menawarkan layanan cuci dan setrika seharga Rp7.000 per kilogram. Pemilik usaha kemudian menetapkan harga yang sama tanpa menghitung biaya operasionalnya sendiri.
Padahal, biaya listrik, air, deterjen, gaji karyawan, sewa tempat, dan perawatan mesin setiap usaha bisa berbeda.
Jika biaya operasional lebih tinggi daripada pesaing, harga yang sama belum tentu menghasilkan keuntungan yang cukup.
Cara mengatasinya: gunakan harga pesaing sebagai bahan perbandingan, bukan sebagai dasar utama. Hitung biaya usaha terlebih dahulu, kemudian tentukan tarif yang masuk akal bagi pelanggan sekaligus tetap memberikan keuntungan.
2. Tidak Menghitung Seluruh Biaya Operasional
Kesalahan berikutnya adalah hanya menghitung biaya yang terlihat langsung, seperti deterjen, pewangi, dan plastik kemasan.
Padahal, menjalankan laundry membutuhkan biaya lain yang juga harus diperhitungkan.
Beberapa biaya operasional yang perlu diperhatikan meliputi:
-
Deterjen, pewangi, dan bahan pendukung lainnya.
-
Gaji karyawan.
-
Sewa tempat.
-
Perawatan dan perbaikan mesin.
-
Biaya kemasan dan perlengkapan.
-
Internet, administrasi, dan biaya operasional lainnya.
Biaya tersebut perlu dihitung secara berkala agar pemilik mengetahui berapa besar pengeluaran yang harus ditutup dari pendapatan usaha.
Sebagai contoh, jika biaya operasional bulanan mencapai Rp6 juta, omzet Rp7 juta tidak otomatis berarti keuntungan Rp1 juta. Pemilik masih perlu memastikan bahwa seluruh biaya sudah masuk dalam perhitungan dan tidak ada pengeluaran lain yang terlewat.
Semakin lengkap pencatatan biaya, semakin akurat pula perhitungan harga layanan.
3. Mengira Omzet Sama dengan Keuntungan
Laundry yang menerima banyak pelanggan sering dianggap sedang menghasilkan keuntungan besar. Padahal, omzet dan keuntungan merupakan dua hal yang berbeda.
Omzet adalah total pendapatan dari penjualan layanan sebelum dikurangi biaya. Sementara keuntungan merupakan sisa pendapatan setelah biaya yang relevan diperhitungkan.
Misalnya, dalam satu bulan sebuah laundry memperoleh omzet Rp12 juta. Jika total biaya usaha mencapai Rp10 juta, keuntungan sebelum pajak dan penyesuaian lain hanya Rp2 juta.
Jika pemilik tidak memisahkan pencatatan pendapatan dan pengeluaran, kondisi bisnis akan sulit dinilai secara akurat.
Karena itu, pemilik perlu memantau omzet sekaligus biaya operasional dan keuntungan. Laporan yang rapi membantu mengetahui apakah harga yang diterapkan benar-benar mendukung keberlangsungan usaha.
4. Memberikan Diskon Tanpa Perhitungan
Diskon dapat menarik pelanggan baru dan mendorong pelanggan lama untuk kembali. Namun, potongan harga yang diberikan tanpa perhitungan dapat mengurangi keuntungan secara signifikan.
Sebagai ilustrasi, tarif laundry Rp8.000 per kilogram diturunkan menjadi Rp6.000 melalui promo. Artinya, pendapatan per kilogram berkurang Rp2.000.
Jika biaya untuk memproses setiap kilogram cukup tinggi, potongan tersebut dapat membuat margin keuntungan menjadi sangat tipis.
Masalah juga muncul ketika pelanggan sudah terbiasa dengan harga promo dan enggan membayar tarif normal.
Sebelum memberikan diskon, hitung terlebih dahulu biaya layanan dan keuntungan yang masih tersisa setelah potongan. Tentukan pula tujuan promosi, misalnya menarik pelanggan baru, meningkatkan transaksi pada hari sepi, atau mendorong pemesanan dalam jumlah tertentu.
Dengan begitu, diskon menjadi strategi pemasaran yang terukur, bukan sekadar cara untuk bersaing.
5. Tidak Membedakan Harga Setiap Jenis Layanan
Setiap layanan laundry memiliki kebutuhan pengerjaan dan biaya yang berbeda.
Cuci kering, cuci setrika, layanan ekspres, dan pencucian barang berukuran besar tidak selalu membutuhkan sumber daya yang sama.
Jika semua layanan diberi harga tanpa mempertimbangkan perbedaan tersebut, ada kemungkinan beberapa layanan menghasilkan keuntungan terlalu kecil.
Contohnya, layanan ekspres membutuhkan prioritas pengerjaan yang dapat mengganggu antrean normal. Jika tarifnya sama dengan layanan reguler, tambahan beban kerja tersebut belum tentu terbayar.
Begitu pula dengan barang seperti bedcover atau selimut yang mungkin membutuhkan kapasitas mesin dan waktu pengeringan lebih besar.
Pemilik perlu menghitung kebutuhan setiap layanan sebelum menetapkan tarif. Harga sebaiknya mencerminkan biaya, tingkat kesulitan, waktu pengerjaan, dan nilai layanan yang diberikan kepada pelanggan.
6. Tidak Memperhitungkan Kapasitas Mesin
Mesin cuci dan mesin pengering memiliki kapasitas tertentu. Jika kapasitas tidak dimanfaatkan secara efisien, biaya operasional per kilogram dapat menjadi lebih tinggi.
Misalnya, mesin yang dirancang untuk menangani cucian dalam jumlah tertentu tetap membutuhkan energi dan waktu ketika digunakan untuk muatan yang sedikit.
Jika kondisi ini sering terjadi, biaya untuk memproses setiap kilogram dapat meningkat.
Sebaliknya, memasukkan cucian secara berlebihan juga bukan solusi karena dapat memengaruhi hasil pencucian, memperberat kerja mesin, dan meningkatkan risiko kerusakan.
Pemilik perlu memahami kapasitas mesin serta pola transaksi agar penggunaan peralatan lebih efisien. Informasi tersebut dapat membantu mengevaluasi apakah tarif saat ini masih sesuai dengan biaya pengerjaan.
7. Tidak Mengevaluasi Harga Secara Berkala
Harga yang ditetapkan saat usaha baru dibuka belum tentu cocok untuk digunakan selamanya.
Biaya listrik, air, bahan pencuci, gaji, dan perawatan peralatan dapat berubah. Jika tarif tidak pernah dievaluasi, keuntungan yang diperoleh bisa semakin kecil tanpa disadari.
Namun, menaikkan harga juga sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan.
Pemilik perlu menghitung perubahan biaya, melihat tarif pesaing, dan mempertimbangkan kualitas layanan yang diberikan. Jika memang perlu ada penyesuaian, komunikasikan perubahan tersebut kepada pelanggan dengan jelas.
Evaluasi harga dapat dilakukan secara berkala, misalnya setiap beberapa bulan, atau ketika ada perubahan biaya operasional yang cukup signifikan.
8. Tidak Memantau Layanan yang Paling Menguntungkan
Tidak semua layanan laundry memberikan kontribusi keuntungan yang sama.
Ada layanan yang memiliki volume transaksi tinggi tetapi margin keuntungannya kecil. Sebaliknya, layanan tertentu mungkin lebih jarang dipesan tetapi memberikan kontribusi yang lebih baik.
Tanpa pencatatan yang rapi, pemilik akan kesulitan mengetahui perbedaan tersebut.
Catat jumlah transaksi, pendapatan, serta biaya yang berkaitan dengan masing-masing layanan jika datanya memungkinkan. Informasi ini dapat membantu pemilik mengevaluasi tarif dan menentukan layanan yang perlu dikembangkan.
Perlu diingat, layanan dengan omzet terbesar belum tentu menjadi layanan paling menguntungkan. Biaya pengerjaan tetap harus diperhitungkan.
Cara Menentukan Harga Laundry yang Lebih Tepat
Untuk menentukan harga yang lebih sehat bagi bisnis, pemilik dapat memulai dengan menghitung seluruh biaya operasional, memperkirakan volume cucian, lalu membandingkan hasilnya dengan tarif yang berlaku di pasar.
Salah satu pendekatan sederhana adalah menghitung biaya rata-rata per kilogram.
Sebagai ilustrasi, jika total biaya yang dialokasikan untuk operasional mencapai Rp6 juta per bulan dan laundry memproses 1.500 kilogram cucian, biaya rata-ratanya adalah Rp4.000 per kilogram.
Angka tersebut belum otomatis menjadi harga jual. Pemilik masih perlu mempertimbangkan biaya yang belum tercakup, target keuntungan, jenis layanan, dan kondisi pasar.
Jika ingin memperoleh margin keuntungan kotor sebesar 30% dari harga jual, rumus sederhananya adalah:
Harga jual = biaya per kilogram ÷ (1 − target margin)
Dengan biaya Rp4.000 dan target margin 30%, harga jual ilustratifnya menjadi sekitar Rp5.715 per kilogram, sebelum penyesuaian biaya lain dan kondisi pasar.
Perhitungan tersebut hanya contoh. Hasil sebenarnya bergantung pada kelengkapan biaya yang dihitung, volume transaksi, serta jenis layanan yang ditawarkan.
Pentingnya Pencatatan dalam Menentukan Harga
Menentukan harga tidak cukup dilakukan sekali ketika usaha dibuka. Pemilik perlu melihat data transaksi dan biaya secara berkala untuk mengetahui apakah tarif yang diterapkan masih sesuai.
Di sinilah aplikasi kasir laundry dapat membantu proses pengelolaan bisnis.
Pencatatan transaksi yang konsisten memudahkan pemilik memantau omzet, jumlah order, dan perkembangan usaha. Jika dipadukan dengan pencatatan pengeluaran, data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi harga dan keuntungan.
Sindry merupakan salah satu aplikasi yang membantu pemilik laundry mencatat transaksi, memantau status order, dan melihat laporan usaha dalam satu sistem.
Dengan data yang lebih teratur, pemilik memiliki informasi yang lebih jelas untuk mendukung keputusan bisnis, termasuk ketika ingin mengevaluasi tarif layanan.
Informasi lebih lanjut mengenai sistem digital untuk pengelolaan laundry dapat dilihat melalui halaman utama aplikasi laundry Sindry di www.aplikasilaundry.com.
Kesimpulan
Kesalahan menentukan harga laundry dapat membuat usaha terlihat ramai, tetapi keuntungan yang diperoleh justru tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.
Beberapa penyebabnya adalah mengikuti harga pesaing tanpa perhitungan, mengabaikan biaya operasional, memberikan diskon berlebihan, serta tidak mengevaluasi tarif secara berkala.
Untuk menghindarinya, pemilik perlu memahami biaya usaha, menghitung biaya setiap layanan, memantau transaksi, dan mengevaluasi harga berdasarkan data.
Harga yang tepat bukan selalu harga termurah. Harga yang sehat adalah harga yang tetap kompetitif bagi pelanggan sekaligus mampu menutup biaya dan memberikan keuntungan yang layak bagi bisnis.
FAQ
1. Bagaimana cara menentukan harga laundry per kilogram?
Hitung biaya operasional yang relevan, perkirakan volume cucian, lalu tentukan target keuntungan. Setelah itu, bandingkan tarif dengan kondisi pasar agar harga tetap kompetitif.
2. Mengapa laundry ramai tetapi keuntungannya kecil?
Penyebabnya bisa berupa harga terlalu rendah, biaya operasional tinggi, diskon berlebihan, atau layanan yang kurang menguntungkan. Periksa omzet dan pengeluaran untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
3. Kapan harga laundry perlu dinaikkan?
Harga perlu dievaluasi ketika biaya operasional meningkat, margin keuntungan menurun, atau tarif saat ini tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis. Sebelum menaikkan harga, hitung dampaknya dan pertimbangkan kondisi pasar.